Asal Mula Candi Borobudur

Candi adalah sebuah struktur yang biasanya dibangun untuk didedikasikan sebagai kegiatan religius atau spiritual termasuk doa, meditasi, pengorbanan dan menyembah. Candi dikenal sebagai kawasan keramat yang menjadi tempat bersemayamnya dewa atau roh dari tempat tertentu. Borobudur adalah nama Candi Budha Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang tepatnya di kota berbukit yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh pegunungan yang mengelilingi candi Borobudur.

Perkiraan Dibangunnya Candi Borobudur

Pada abad pertengahan Candi borobudur dibangun sebagai upaya untuk memuliakan Buddha Mahayana. Pembangunan Borobudur diperkirakan pada 850 Masehi dan dirancang sebagai sebuah paramida bertingkat kemudian ditambah lingkaran stupa yang besar dan dinding yang dihiasi dengan relief rendah yang mencakup area permukaan sekitar 2.500 m2. Di sekitar platform sirkular adalah 72 stupa kerawang yang masing-masing berisi sebuah Arca Buddha.

Bagian vertikal candi adalah dasar tubuh suprastruktur yang sesuai dengan konsepi alam semesta kosmologi Buddha. Hal ini diyakini bahwa alam semesta ini dibagi menjadi tiga bidang seperti kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu yang mewakili setiap masing-masing keinginan. Kamadhatu mewakili basis, rupadhatu mewakili teras persegi lima dan arupadhatu mewakili tiga platform sirkular serta stupa besar. Seluruh struktur ini menjadi pusat penyembahan leluhur yang berkaitan dengan konsep Buddha.

Penemuan Candi Borobudur

Setelah Candi Borobudur selesai dibangun, beberapa prasasti menyebut Candi ini kemudian digunakan oleh orang-orang agama Budha masa itu sebagai tempat ibadah dan ziarah. Penggunaan candi ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, yakni sekitar 150 tahun. Penggunaan candi ini memang tak sesuai dengan lama proses pembangunannya. Hal ini diketahui karena adanya migrasi besar-besaran orang-orang Budha di sekitar Candi karena keruntuhan Wangsa Syailendra. Mereka terdesak oleh keberadaan orang-orang Hindu yang secara kuantitas memang lebih banyak dan karena semakin sedikitnya para penganut Budha di sekitar wilayah tersebut sehingga menyebabkan Candi Borobudur tidak lagi digunakan.

Penemuan kembali Candi borobudur

Pada tahun 1841 masehi Sir Thomas Stamford Rafless menemukan puing-puing batuan berusia tua dalam jumlah banyak di sekitar wilayah tersebut. Sir Thomas Stamford Rafles adalah seorang Gubernur Jendral Inggris yang memimpin Indonesia pada masa peralihan penjajahan dari Belanda ke Inggris tahun 1811 M –1816 M. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menguak asal usul Candi Borobudur yang awalnya tertimbun tanah.

Ia memerintahkan anak buahnya untuk membongkar tanah di sekitar tempatnya agar menemukan batu-batu tua itu dan kemudian memerintahkan anak buahnya untuk meneruskan pekerjaannya, akan tetapi karena kesibukan perang pekerjaan ini akhirnya terbengkalai.

Pada tahun 1835 Masehi, Hartman adalah seorang Gubernur Jendral Belanda yang melanjutkan proses pengangkatan Candi Borobudur yang ditinggalkan oleh Rafless selepas Inggris mengalami kekalahan perang dalam memperbutkan daerah jajahannya yaitu Indonesia. Ia memang sangat tertarik pada candi yang ditemukannya tersebut dan mengusahakan pembersihan menyeluruh dari puing-puing yang mengotori candi ini.

Perbaikan Candi Borobudur

Pada tahun 1907 sampai 1911 Masehi di bawah pimpinan Van Erf Belanda mulai melakukan perbaikan terhadap candi yang terlihat belum sempurna. Perbaikan ini masih dilakukan dengan teknologi konvensional sehingga reliefnya belum juga terbentuk seperti aslinya. Tetapi karena kesibukan politik, militer, ekonomi perbaikan candi ini dihentikan dan dibiarkan begitu saja tanpa perawatan.

Pada tanggal 10 Agustus 1973 perbaikan candi lanjut dilakukan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Bukti perbaikan ini berupa prasasti seberat 20 ton yang sengaja dibuat dan diletakan di sebelah Barat Laut Candi menghadap ke Timur. Uniknya perbaikan Candi Borobudur ini dilakukan oleh sekitar 600 pekerja yang kebanyakan di antaranya merupakan tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan STM bangunan yang sebelumnya sudah diberikan pendidikan dan keterampilan khususnya tentang bidang Chemika Arkeologi dan Teknologi Arkeolog. Mereka adalah asli putra dan putri bangsa Indonesia sendiri dan tak ada satu pun di antaranya tenaga ahli dari luar negeri. Perbaikan selesai dilakukan pada 23 Februari 1983.

Candi Borobudur pada saat ini

Setiap tahun nya Candi borobudur ini dikunjungi lebih dari 3,5 juta wisatawan lokal maupun mancanegara. Anda dapat menikmati keindahan bangunan bersejarah ini dan menikmati pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi bangunan peninggalan Dinasti Syailendra ini sehingga akan membuat pengalaman tersendiri bagi Anda.