Anne Avantie, Desainer Sukses Lulusan SMP

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Anne Avantie? Seorang perancang busana terkenal ini berasal dari kota Solo. Anne Avantie selalu menghasilkan karya yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Bunda Anne adalah sosok yang sukses tetapi tetap rendah hati dan disukai oleh banyak orang baik keluarga dan teman-temannya serta para penggemarnya. Tidak hanya sukses dan berprestasi, Anne juga diberkati dengan kehidupan yang bahagia dan penuh sukacita.

Tetapi bagaimana Anne Avantie bisa sesukses sekarang? Yuk, kita intim rahasia nya. Sebenarnya meniti karier sebagai desainer bukanlah mimpi Anne Avantie. Namun Tuhan berkata lain, perempuan asal Semarang yang pendidikan formalnya hanya sampai bangku SMP ini tidak punya latar belakang mendesain dan tidak bisa membuat pola sama sekali tetapi malah sukses dan berkecimpung di industri mode Tanah Air sebagai desainer.

Wanita ini ada sampai saat ini hanyalah karena kasih ibu dan anugerah Tuhan. Karenanya, Anne tidak ingin melupakan setiap pertolongan Tuhan dan rindu menyalurkan kasih serta anugerah tersebut pada banyak orang. Ia menjadi inspirasi bagi setiap perempuan. Seorang wanita yang hanya lulusan SMP dan tak mampu melanjutkan sekolah karena kurang biaya ini sanggup menaklukkan masalah.

Anne pernah gagal dalam berumah tangga tetapi Tuhan telah memberi kesempatan untuk memperbaikinya. Kegagalannya dalam membina rumah tangga dijadikan pelajaran yang cukup berarti oleh Anne. Ia sendiri tidak mau tenggelam dalam kegagalan dan ingin bangkit untuk melanjutkan hidupnya.

Tahun 1989, Anne dipinang Yoseph Henry. Dalam kesederhanaan keduanya diberkati di Gereja Kateral Semarang. Anne yakin pernikahannya dengan Henry berbeda dengan pernikahan pertamanya. Dengan dukungan suami, ia memakai garasi di rumah kontrakan untuk dijadikan studio jahit. Dengan dua mesin jahit tanpa dinamo ia menerima jahitan khusus untuk kostum tari dan sejenisnya.

Henry membantu mempromosikan usaha baru Anne hingga suatu hari grup tari yang cukup kondang pada masa itu (Andromedys Dance) mau menggunakan jasa modistenya. Dari situlah muncul ide untuk menjadi sponsor kostum dimanapun grup dance ini manggung. Lewat atraksi Andromedys Dance, sontak nama Anne pun banyak dikenal orang. Ia juga ditawari ikut show di Ikatan Perancang Muda Jawa Tengah. Selangkah demi selangkah usaha Anne kian berkembang. Anne rajin mengikuti show-show yang diadakan di Semarang sedangkan Henry menyiapkan spanduk bertuliskan modistenya.

Selain suami, ternyata perjalanan sukses Anne itu tidak lepas dari peran seorang ibu yang mengajarkannya menjahit tanpa melalui pendidikan formal atau secara otodidak. Anne sangat bersyukur karena dibentuk oleh cara mendidik ibu yang mengajarkannya cara memotong pola yang tidak biasa sehingga akhirnya kebaya dengan potongan asimetris itu menjadi terkenal dan malah menjadi bomming di Indoneisa.

Ketika karirnya kian membumbung tinggi, Anne tak menjadi takabur. Ia selalu berprinsip bahwa hidup harus arif, pun didalam masa kejayaan. Menurutnya dalam kejayaan justru ada tanggungjawab besar yang sedang dipikul. Anne yang hanya lulusan SMP telah mendobrak pola pikir masyarakat umum mengenai pendidikan tinggi yang hanya bisa mengantarkan seseorang menjadi sukses. Keterpurukan di masa lalu membuat Anne harus berjuang lebih keras agar bisa menciptakan keseimbangan karya untuk membanggakan negara.

Ia juga pernah mengalami keterpurukan saat tempat kerjanya dibakar masa pada tahun 1998, tetapi kejadian itu tidak membuatnya putus asa. Banyak jatuh bangun yang sudah dirasakan Anne Avantie, akan tetapi karena adanya semangat juang yang tinggi membuat Anne bisa menjadi saluran berkat bagi orang banyak.

Uniknya dengan segala keterbatasan nya terhadap perkembangan teknologi, justru membuat hasil karya Anne menjadi eksklusif dengan mempertahankan sentuhan tangan (handmade). Makanya produksinya tidak pernah terlalu besar karena tidak ada sentuhan teknologi. Tidak heran jika hasil rancangannya mempunyai nilai yang tinggi.

Kini semua ada dalam genggaman Anne. Keluarga yang harmonis dan karir yang mapan serta kehidupan sosial yang baik. Tak ada lagi yang diharapkan kecuali ia ingin dipakai Tuhan lebih besar lagi. Karena itu dengan balutan kebaya sebagai mata pencahariannya, Anne ingin terus melanjutkan jalinan kasihnya untuk sesama tanpa ada batasan suku, ras dan agama. Seperti laiknya Mother Theresa, tokoh yang diidolakannya. Selama Tuhan masih memberi kesempatan dan hidup, ia akan melakukan hal-hal yang berguna bagi banyak orang.